English
PT Pelabuhan Indonesia 4 (Persero) | Kebijakan Baru Ibarat Jamu
7
single,single-post,postid-7,single-format-standard,ajax_leftright,page_not_loaded,smooth_scroll,,wpb-js-composer js-comp-ver-3.6.12,vc_responsive

Kebijakan Baru Ibarat Jamu

Ibarat jamu, pahit namun menyehatkan, penyesuaian tarif yang baru berlaku per 1 Juli 2009 lalu, diharapkan segera membawa dampak menyehatkan bagi pelabuhan.

Selama ini, di Pelabuhan Makassar, belum ada pembatasan bagi orang maupun kendaraan yang keluar masuk pelabuhan lantaran tarif masuknya yang sangat murah. Trafik di Pelabuhan Makassar, baik arus barang, penumpang, dan kapal, menunjukkan kenaikan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Dengan tarif yang murah, kondisi itu berdampak pada areal pelabuhan yang seringkali sesak oleh pengunjung maupun kendaraan. Jumlah kendaraaan dan pengunjung yang saban hari ke pelabuhan tidak seimbang dengan kapasitas areal yang sempit. Arus kian meningkat sementara luas areal yang digunakan tetap.

”Areal pelabuhan saat ini sangat sempit, dan orang selama ini bebas masuk dengan tarif yang murah. Keamanan dan kenyamanan di dalam pelabuhan benar-benar bisa terganggu,” tutur Arusi Rahman. Hal ini juga dikeluhkan oleh pemilik kapal maupun pemilik barang yang melakukan bongkar muat di pelabuhan. Jika pada saat yang sama, dua hingga tiga kapal penumpang bersandar di Pelabuhan, sementara kapal lain juga melakukan bongkar muat, arus lalu lintas di dalam pelabuhan Makassar padat dan hampir macet. Tentu saja ini menambah beban biaya yang tidak sedikit bagi kapal. Tidaklah mengherankan jika barang yang sampai ke masyarakat selaku konsumen sebagai dampak biaya tinggi dari aktivitas di pelabuhan. Sebab tak dapat dipungkiri kalau pelabuhan adalah pintu gerbang arus barang yang masuk maupun keluar dari sebuah wilayah.

TARIF BARU
”Setiap orang yang masuk pelabuhan harus dengan tujuan jelas. Dengan mahalnya biaya masuk, mereka akan berpikir untuk lalu lalang di pelabuhan,”tegas Arusi Rahman.

Namun, meskipun akses masuk ke pelabuhan dibatasi dengan cara mematok biaya masuk pelabuhan yang cukup tinggi, bukan berarti hal itu untuk membuat areal pelabuhan menjadi daerah terlarang. Kebijakan tarif baru diciptakan demi menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan aktivitas dalam pelabuhan. Selama ini, petugas keamanan sulit melakukan pengontrolan terhadap ratusan ribu hingga ribuan orang yang keluar masuk ke tempat itu.

Alasan lain, imbuhnya, biaya pemeliharaan di dalam area pelabuhan sangat tinggi. Kenaikan tarif diharapkan bisa membantu pembiayaan perawatan seperti jalanan, gudang, dermaga, dan peralatan lainnya. Infrastuktur di pelabuhan sangat kompleks dan Pelindo IV barangkali adalah instansi yang paling sering disoroti jika terdapat gejolak di Pelabuhan. Namun peran besar Pelindo sangat dibutuhkan meski tidaklah mudah mengelola sebuah pelabuhan dan memberikan kepuasan kepada seluruh pihak.

Seperti yang terjadi ketika tarif harian untuk masuk Pelabuhan Makassar yang baru diaplikasikan. Sekelompok orang mendatangi kantor cabang Makassar untuk meminta kejelasan ihwal di balik kenaikan tarif yang mengejutkan ini. Koran-koran pun ramai memberitakan tentang hal tersebut dan bahkan ada yang menganggap hal itu gila-gilaan.

Namun setelah mendapat penjelasan secara detail, akhirnya mereka menerima dan memahami mengapa kebijakan yang terasa pahit itu harus ditempuh oleh manajemen Pelindo IV cabang Makassar. Untuk kemaslahatan ummat, tentunya jamu pahit ini harus diminum agar pelabuhan yang merupakan gerbang krusial Kota Makassar bisa lebih sehat.

Ikwal perobahan tariff ini, Humas Cabang Makassar, Adi Sutrisno tersenyum dan berujar, “Bukan dinaikkan tapi penyesuaian”.

Sejak April 2007, Cabang Makassar belum pernah melakukan penyesuaian tarif. Maksudnya, struktur tarif pelayanan barang dan rupa-rupa usaha yang berlaku di pelabuhan Makassar selama ini adalah tariff sejak April 2007. Itupun, lanjut Adi Sutrisno, penyesuaian tarif tersebut sudah dibahas dengan Administrator Pelabuhan (Adpel) Makassar plus dua mitra kerja lainnya yang memayungi para pemakai jasa pelabuhan, yaitu GAFEKSI/INFA dan APBMI Sulawesi Selatan. Lewat pembahasan bersama itu disepakati penyesuaian besaran tarif pas harian masuk pelabuhan Makassar dan diberlakukan mulai 1 Juli 2009.

Dalam upayanya, Pelindo telah secara bertahap menambah fasilitas untuk meningkatkan dan mendukung kenyamaman pelayanan jasa di pelabuhan. Pengelola pelabuhan yang sudah sangat berpengalaman ini senantiasa berharap dukungan dari semua stakeholder karena pelabuhan adalah milik semuanya dan setiap saat perseroan yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah ini bekerja keras untuk mewujudkan pelabuhan sebagai pendukung utama kemakmuran bangsa.

Rincian tarif baru adalah untuk per orang (umum-pengantar dan penjemput) dipungut Rp. 5.000, sebelumnya Rp. 2000. Kendaraan roda dua Rp. 10.000 perunit, dari sebelumnya Rp. 2000. Kendaraan roda empat menjadi Rp. 15.000 sebelumnya Rp. 5000 perunit.

Mengutip data di Humas Cabang Makassar pada periode 1-12 Juli 2008 jumlah pengantar dan penjemput mencatat angka 33.800 orang, sepeda motor 2.087 unit dan mobil truk 11.962 unit.

Begitu terjadi penyesuaian tarif pada 1 Juli 2009 pada periode 1-12 Juli 2009 jumlah pengantar dan menjemput menurun drastic hanya 9.900 orang, sepeda motor 837 unit dan truk 3.821 buah.

Jadi keputusan manajemen Cabang Makassar untuk menaikkan tarif terbukti telah membantu mengurangi kepadatan lalu lintas orang dan kendaraan di pelabuhan. Semoga tujuan sesugnguhnya dari penyesuaian tarif ini dapat bermanfat seterusnya untuk masyarakat terutama di Pelabuhan Makassar itu sendiri.

No Comment

Post A Comment