English
PT Pelabuhan Indonesia 4 (Persero) | UKM Binaan Pelindo IV Ikut IWAPI Sulsel Expo
14715
single,single-post,postid-14715,single-format-standard,ajax_leftright,page_not_loaded,smooth_scroll,,wpb-js-composer js-comp-ver-3.6.12,vc_responsive

UKM Binaan Pelindo IV Ikut IWAPI Sulsel Expo

IMG-20171005-WA0019 IMG-20171005-WA0021 IMG-20171005-WA0033 IMG-20171005-WA0024 IMG-20171005-WA0026 IMG-20171005-WA0024 IMG-20171005-WA0031 IMG-20171005-WA0023 IMG-20171005-WA0029 IMG-20171005-WA0027 IMG-20171005-WA0028 IMG-20171005-WA0022 IMG-20171005-WA0032 IMG-20171005-WA0027 IMG-20171005-WA0025

 

INAPORT4 – PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) melibatkan mitra binaannya dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Sulsel Expo yang digelar di Grand Clarion Hotel Makassar, mulai 5 hingga 8 Oktober 2017.

 

Sekretaris Perusahaan, Iwan Sjarifuddin mengatakan keterlibatan mitra binaan Pelindo IV dalam IWAPI Sulsel Expo yang digelar bersamaan dengan Rakernas IWAPI XXVII tersebut juga dalam rangka merealisasikan Program Kerja Manajemen (PKM) Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Pelindo IV.

 

“Dalam kegiatan tersebut, kami [Pelindo IV] mengikutsertakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Makassar yang selama ini telah menjadi mitra binaan,” kata Iwan.

 

Mitra binaan yang dilibatkan menurutnya, yaitu Koperasi UED-SP “Sipakalebbiri” dengan produk UKM yang dihasilkan selama ini, yaitu aneka anyaman serat lontara.

 

Menurut Iwan, mitra binaan UKM yang diikutsertakan dalam kegiatan tersebut adalah mitra binaan yang memiliki prospek dan pasar yang cukup luas dan diharapkan dapat lebih berkembang setelah mengikuti expo.

 

“Keikutsertaan mitra binaan ini juga sebagai salah satu bentuk dan sarana untuk memperkenalkan produk unggulan daerah Sulawesi Selatan, khususnya anyaman dari serat lontara kepada masyarakat yang lebih luas lagi,” ujar Iwan.

 

Seperti diketahui, kerajinan anyaman serat lontara asal Sulsel sebenarnya sudah menembus pasar mancanegara. Hanya saja, produk yang dipasarkan Koperasi UED-SP “Sipakalebbiri” masih memerlukan binaan untuk mampu masuk ke pasar yang lebih luas lagi.

 

Adapun, anyaman dari serat lontara biasanya dibentuk menjadi berbagai produk fesyen dan cinderamata, seperti Songkok Guru atau yang biasa dikenal dengan Songkok To Bone yang biasanya dikenakan khusus pada acara adat Bugis Makassar.

 

Seiring berjalannya waktu, produk kerajinan yang dihasilkan dari serat lontara semakin berkembang menjadi berbagai produk seperti tas, kipas, topi, tutup saji dan aneka cinderamata lainnya.

 

Anyaman serat lontara merupakan produk asli buatan tangan yang diproses secara tradisional dan tanpa menggunakan mesin, sehingga harga yang ditawarkan kepada konsumen pun relatif mahal. Contohnya untuk sebuah peci atau songkok dengan kualitas tinggi, biasanya dibanderol dengan harga sekitar Rp75.000, sedangkan untuk produk anyaman lainnya antara Rp100.000 hingga Rp300.000.

 

Tak hanya pasar global, potensi pasar anyaman serat lontara di dalam negeri juga sebenarnya cukup besar. Di pasar global, produk dari anyaman serat lontara sudah memiliki pangsanya masing-masing. Misalnya di Spanyol, hiasan tutup lampu paling diminati, sedangkan peci atau Songkok To Bone kebanyakan dikirim ke Brunei Darussalam dan aneka cinderamata lebih banyak peminatnya di Negeri Sakura, Jepang.

 

No Comment

Post A Comment