English
PT Pelabuhan Indonesia 4 (Persero) | Konektivitas di KTI Sebabkan Deflasi
14144
single,single-post,postid-14144,single-format-standard,ajax_leftright,page_not_loaded,smooth_scroll,,wpb-js-composer js-comp-ver-3.6.12,vc_responsive

Konektivitas di KTI Sebabkan Deflasi

5b33f9e6-7da9-4c0f-a123-dd9bb0212052 07c496d6-508f-4f6f-9275-a3ec22f03ad5 09b45390-8024-4ab8-881c-c74735c2b9c7 buka buka3 buka4 buka5 f4bb250d-0c7a-4b44-ad98-4cfc87bad70d faridmou3mou2mou

 

INAPORT4 – PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) telah mampu melaksanakan konektivitas di Kawasam Timur Indonesia (KTI) dan melaksanakan ekspor langsung dari Pelabuhan Makassar ke 45 negara, sehingga pada bulan Ramadan tahun ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengalami deflasi.

 

“Biasanya menjelang Lebaran selalu terjadi inflasi tapi tahun ini di Sulsel kebalikannya malah deflasi karena pemprov bersama-sama bersinergi di antaranya Pelindo IV telah berhasil membuka konektivitas di Kawasan Timur Indonesia dan ekspor langsung,” tutur Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo saat membuka acara Misi Dagang dan Pameran Produk/Komoditi Unggulan Sulsel di Ambon, Maluku, Minggu (30/7/2017).

 

Konektivitas domestik di semua pelabuhan yang ada di KTI yang telah dilakukan Pelindo IV bertujuan untuk memudahkan masyarakat di wilayah ini mendapatkan barang kebutuhannya dengan harga yang tidak terlalu tinggi, disamping hasil produksi petani dan pengrajin Sulsel dan KTI bisa langsung diangkut dari Makassar untuk diekspor ke 45 negara dan sebaliknya impor bisa langsung tiba tanpa harus melalui Surabaya ataupun Tanjung Priok.

 

Syahrul menyebutkan, sumber alam di timur Indonesia sudah ada dan  tinggal sumber daya manusianya saja yang perlu dikelola lebih baik lagi.

 

Dia berharap dengan konektivitas yang telah dilakukan oleh Dirut Pelindo IV, Doso Agung tidak ada lagi pengusaha di Sulawesi Selatan melakukan ekspor dan impor dari Pulau Jawa.

 

Dirut Pelindo IV Doso Agung dalam pemaparannya di acara tersebut mengatakan, sebelumnya untuk melaksanakan ekspor langsung pengusaha harus lewat Surabaya dan Semarang.

 

Hal ini tentu mengakibatkan biaya tinggi karena barang berkali-kali dibongkar muat turun naik kapal dan terjadi antrian kapal, serta jarak tempuh menjadi lama sebab harus singgah ke beberapa pelabuhan dan mengakibatkan angka dwelling time tinggi.

 

“Dengan program “BUMN Hadir untuk Negeri”, Pelindo IV lalu berupaya membangun konektivitas domestik di KTI yang telah dirintis selama 1 tahun ini,” kata Doso yang menambahkan, dirinya juga telah memperkuat jalur ekspor langsung (direct export) maupun direct call.

 

“Awalya Pelindo IV melakukan pengiriman perdana ekspor langsung sebanyak 30 kontainer, namun kini sudah mampu mengekspor lebih 500 kontainer melalui Pelabuhan Makassar ke 45 negara,” papar Doso disambut tepuk tangan ratusan peserta Misi Dagang.

 

Dengan direct call, biaya logistik dari dan ke Kawasan Timur Indonesia kini telah dirasakan pengusaha hemat sekitar 40%. Selain itu, barang kebutuhan juga jadi cepat diterima oleh masyarakat karena adanya angkutan langsung ke daerah tujuan di KTI.

 

“Bagi kami, ingin menciptakan bagaimana agar harga barang itu tidak terjadi disparitas, tidak terjadi dengan wilayah lainnya, serta antara Barat dan Timur tidak lagi terjadi kesenjangan yang begitu lebar,” ungkap Doso.

 

Namun yang menjadi masalah, saat ini bagaimana konsolidasi muatan di timur Indonesia, ibarat anak sekolah tidak bisa dari SD langsung ke S1 atau S2, tapi bertahap ke SMP, SMA dulu.

 

“Sama dengan yang kami lakukan sekarang untuk ekspor langsung dari timur Indonesia, tidak bisa langsung dari daerah masing-masing seperti Ambon, Maluku tapi kita kumpulkan dan dibawa ke Makassar dulu bertahap. Nanti bila sudah lancar baru bisa dilepas langsung dari daerah masing-masing,” cerita Doso. “Pelayaran akan rugi kalau angkutnya hanya sedikit.”

 

Dengan luas wilayah Indonesia Timur 50% dari luas keseluruhan  wilayah Indonesia, kini ekspor langsung sudah bisa menuju 54 negara serta 65 produk disamping bisa menghemat biaya dari semula Rp4 juta per kontainer kini hanya Rp1,7 juta karena waktu tempuhnya menjadi cepat untuk ekspor ke China dari 24 hari kini hanya 16 hari.

 

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara Misi Dagang dan Pameran Produk/Komoditi Unggulan Sulawesi Selatan di Ambon-Maluku, Hadi Basalamah yang juga Kepala Dinas Perdagangan Sulsel menyebutkan dengan diadakannya kegiatan misi dagang tersebut, antara lain dapat menekan disparitas harga, membangun struktur perdagangan, mempertemukan dan pelaksanaan peran lebih profesional.

 

“Yang perlu didorong, pasar tidak hanya di luar negeri tapi juga di dalam negeri juga,” katanya.

 

Dalam kegiatan Misi Perdagangan di Ambon-Maluku katanya, pihak Pemprov Sulsel membawa 125 delegasi antara lain dari pengusaha, UMK, BUMN dan Kadin.

 

Selain itu, dalam acara tersebut juga dilaksanakan kerja sama MoU antara Maluku dan Papua untuk menyuplai hasil pangan Sulsel ke Maluku dengan jumlah 43.750 ton senilai Rp363 miliar dan ke Papua 125 ton senilai Rp1,7  triliun, khususnya komoditas beras, gula pasir, bawang merah dan cabe.

 

Dengan kegiatan misi dagang ini akan menciptakan dan bagaimana mendorong disparitas serta mendorong ekspor langsung dari Makassar.

 

“Misi dagang untuk menguatkan sektor perdagangan, meminimalisasi disparitas harga dan mendorong produk-produk 98 item UKM yang sudah tersistem di perbankan, sehingga bisa berjalan dengan baik,” kata Hadi.

No Comment

Post A Comment